Pages

Kamis, 11 Agustus 2011

7 Ahli Surga

1. Pemuda yang bertaubat
 Taubat adalah satu-satunya cara untuk kembali ke jalan Allah,setelah berbuat hal yang menyimpang
“Barangsiapa yang mendapat peringatan dari Tuhannya,dan dia menghentikan perbuatan buruknya,maka yang lalu biarlah berlalu,dan urusannya menjadi urusan Allah.Tapi barangsiapa yang kembali melakukan perbuatan buruknya,maka mereka itulah penghuni neraka,kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah 275)

2. Orang yang bersedekah secara diam-diam
Tanpa adanya Contoh amal perbuatan. Apalagi dakwah mengenai sedekah, seharusnya dia juga memberi Contoh Konkrit bahwa dia juga termasuk Seorang Yang Ahli Sedekah, Seorang Motivator dan Pelopor di bidang sedekah. Jika diibaratkan dakwah itu sebuah pakaian maka kenakanlah dulu pakaian itu untuk kita baru kita sarankan kepada orang lain. Jangan biarkan diri kita telanjang sedangkan orang lain berpakaian dengan pakaian yg kita sarankan. Sungguh perbuatan ini sangat dibenci oleh Allah SWT.
“Mengapa kalian mengajak orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri (akan kewajib-an)mu sendiri, padahal kalian membaca Al kitab? Maka tidaklah kalian berfikir?” (Al-Baqarah: 44).

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang kalian tidak perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang kalian tidak kerjakan.” (Ash-Shaff: 2-3 ).
3. Orang yang rajin sholat dhuha
Solat dhuha adalah sembahyang sunat 2 rakaat atau lebih. Maksimanya 12 rakaat.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ بِصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ
Drp Abu Hurairah, Sabda Nabi saw, "Telah berpesan kepadaku temanku (Rasulullah saw) tiga macam pesanan: Puasa 3 hari setiap bulan, sembahyang dhuha 2 rakaat dan sembahyang witir sebelum tidur" (riwayat Bukhari, Muslim dan Thabarani).
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ صَلَّى الضُّحَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْرًا مِنْ ذَهَبٍ فِي الْجَنَّةِ
Drp Anas bin Malik, Sabda Nabi SAW ; "Barang siapa sembahyang dhuha 12 rakaat, Allah akan membuat baginya istana daripada emas di syurga" (riwayat Tirmidzi & Ibnu Majah)
Rasulullah bersabda yang bermaksud,"Siapa saja yang dapat mengerjakan solat Dhuha dengan istiqamah, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu seluas lautan."Rasulullah bersabda lagi,"Solat Dhuha itu mendatangkan rezeki dan menolak kefakiran (kemiskinan), dan tidak ada yang akan memelihara solat Dhuha kecuali hanya orang-orang yang bertaubat."
Di dalam hadis yang lain pula diterangkan seperti berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:"إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا، يُقَالُ لَهُ: الضُّحَى، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ نَادَى مُنَادٍ: أَيْنَ الَّذِينَ كَانُوا يُدِيمُونَ عَلَى صَلاةِ الضُّحَى؟ هَذَا بَابُكُمْ فَادْخُلُوهُ بِرَحْمَةِ اللَّهِ
Dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW , beliau bersabda : "Bahawasanya di syurga ada pintu yang dinamakan, "Dhuha." Maka jika kamu datang hari kiamat kelak, serulah (malaikat) penyeru: manakah orang-orang yang telah mengerjakan solat Dhuha? Inilah pintu kamu, silakan masuk ke dalam dengan rahmat Allah." Al-Tabrani
4. Orang yang mempunyai perumpamaan 'lebih baik kehilangan uang   dari pada kehilangan jama'ah (sholat) nya'
1. Perintah Allah سبحانه وتعالى untuk ruku’ bersama orang-orang yang ruku’:
وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ. البقرة: 43
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’. (al-Baqarah: 43)
Qadli al-Baidlawi رحمه الله berkata: “Yakni bersama jama’ah mereka”. (Tafsir al-Baidlawi 1/59)
Berkata Imam Abu Bakar al-Kisani رحمه الله: “Ini adalah perintah untuk ruku’ bersama-sama dengan orang-orang yang ruku’, dan ini menunjukkan adanya perintah untuk menegakkan shalat berjama’ah. Sedangkan perintah yang mutlak menunjukkan wajibnya perkara tersebut”. (Bada’iu ash-Shanai’i fi Tartiibi asy-Syara’ii, 1/155)
2. Perintah untuk shalat berjama’ah dalam keadaan khauf
Allah سبحانه وتعالى memerintahkan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para shahabatnya untuk shalat berjama’ah walaupun dalam keadaan khauf (genting), yaitu dalam situasi perang. Hal ini menunjukkan kalau shalat jama’ah merupakan perkara yang penting dan wajib.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاَةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُمْ مَيْلَةً وَاحِدَةً وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ كَانَ بِكُمْ أَذًى مِنْ مَطَرٍ أَوْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَنْ تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا. (النساء: 102
5. Orang yang keluar air matanya saat bertaubat
Nabi Daud alaihissalam menangis, hingga tangisannya membuat orang-orang yang mencintainya menangis juga. Allah SWT berfirman, “Kembalinya engkau kepada kami lebih kami sukai daripada kesombonganmu atas kami, air mata akibat duka yang engkau rasakan, lebih mulia bagi kami dari pada seribu rakaatmu yang diiringi kepongahanmu.” Wahai orang yang bertaubat, andai engkau tahu apa esensi dari hadits Rasulullah saw, “sungguh Allah sangat gembira dengan taubat hambanya,” niscaya jiwamu akan berguncang hebat, dan dirimu akan mati karena rindu yang begitu menggelora.
6. Orang yang dekat dengan ulama
"Sesungguhnya Allah tidak akan menghilangkan ilmu dengan mencabutnya dari semua manusia, akan tetapi dengan menghilangkan ulama, sehingga ketika tidak ada lagi seorang alim, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Yang ketika ditanya, mereka akan memberi fatwa tanpa didasari ilmu sehingga fatwa akan sesat dan menyesatkan (HR Bukhari)."

Rasul SAW mengibaratkan ulama itu sebagai lampu-lampu bumi. Artinya, ulama itu bertugas menerangi kehidupan umat dari kegelapan. Sebagai pengganti para nabi, ulama bertugas melanjutkan dakwah dan menegakkan yang makruf dan mencegah yang mungkar. Mereka mewarisi ilmu para nabi, menjaga dan menyampaikannya kepada umat, agar senantiasa memiliki akhlak yang mulia.
7. Orang yang mengerti fatwa dan mengikuti amal baik ulama
Di antara kandungan hadits Arba’in Nawawiyyah yang ke-27 ini adalah penjelasan Rasulullah bahwa seorang sahabatnya, Wabishah bin Ma’bad ra,  diperintahkan beliau saw untuk berfatwa kepada hatinya, yaitu mengikuti “suara” hatinya tersebut dan meninggalkan fatwa-fatwa yang diberikan oleh orang lain. Dan bahwasanya “suara” hatinya itu merupakan tolok ukur baginya untuk menilai apakah sesuatu itu merupakan kebajikan atau merupakan dosa.
Jika hatinya merasa tenang, nyaman, tenteram dan mantap, tidak ada keraguan, tidak ada ganjalan dan tidak ada kekhawatiran atau ketakutan bila terlihat oleh orang lain, maka hal itu merupakan kebajikan. Sementara, jika terjadi sebaliknya, maka itu pertanda bahwa perkara yang akan dia lakukan itu adalah dosa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar